Peziarahan Abadi

Menapaki Kehidupan, Memaknai Perjalanan
Browsing resensi

Tak Ada yang Tahu Takdirmu

February18

 

curious_case_of_benjamin_button1

Setiap orang itu unik. Ada yang menjadi balerina. Ada yang menjadi tukang jam. Ada yang menjadi pengasuh di panti jompo. Ada yang menjadi pengusaha kancing. Ada yang menjadi kapten kapal. Dan ada yang menjadi kelasi kapal. Semua tergantung dengan takdir dan pilihan hidup seseorang.

 

Selain unik, tidak ada seorang pun yang tahu takdir dirinya maupun takdir orang lain. Tidak kartu tarot, bola kaca, dan tidak juga paranormal. Siapa sangka Benjamin Button yang dilahirkan dalam kondisi fisik manusia berumur 80 tahun menjadi semakin muda seiring bertambahnya usia hingga akhirnya mati dalam badan seorang bayi?

Read the rest of this entry »

  • Share/Bookmark

Defiance – Kekuatan untuk Bertahan

January27
defiance

Batal nonton “Republik Petruk”-nya Teater Koma, aku dan suami meluncur ke Hollywood KC 21. Bioskop ini berjarak tempuh 15 menit dari tempat tinggal kami. Kami sepakat nonton film “Defiance” yang diputar midnight pada Sabtu (24/1) lalu.

Film ini berdasarkan pengalaman luar biasa dari Bielski bersaudara yang adalah keturunan Yahudi. Pada masa Perang Dunia II (1941-1945), terjadi pembantaian besar-besaran terhadap orang Yahudi oleh tentara Nazi Jerman pimpinan Hitler. Tidak terkecuali keluarga Bielski di Belarusia yang diduduki tentara Jerman. Ribuan orang telah mati, tapi tentara Nazi masih bernafsu untuk memburu dan membunuh yang tersisa.
Read the rest of this entry »

  • Share/Bookmark

Gandhi, Kemenangannya Mengubah Dunia

June23

Saat putus asa, aku selalu ingat bahwa jalan kebenaran dan cinta selalu menang. Di sana mungkin terdapat tirani dan pembunuhan, dan untuk beberapa waktu, mereka mungkin kelihatan terlalu kuat untuk dikalahkan; tapi pada akhirnya, mereka selalu gagal. Pikirkan ini, selalu.

gandhi

Kamu pernah dengar nama Mahatma Gandhi? Kata-kata berkekuatan dashyat di atas diucapkannya ketika memperjuangkan persamaan hak-hak imigran di Afrika Selatan. Dia berjuang nggak sendirian, tapi bersama orang Hindu dan Islam di sana yang jadi korban. Tapi jangan bayangkan mereka berjuang pakai bambu runcing, tombak, atau pistol. Mereka memakai jalur hukum, kebetulan Gandhi pengacara, dan sama sekali nggak melawan pas ditendang, dipukul, dan dikata-katain aparat. Memang kalau perjuangan dilakukan bersama-sama, apalagi pakai cara-cara damai, persis kayak yang dia bilang, perjuangan itu pun sukses.

Read the rest of this entry »

  • Share/Bookmark

Kegigihan Melawan Kekerasan

October7
The Pianist

Film ini penuh dengan kekejaman kalau bukan kekerasan. Tapi dibalik itu muncul pula kegigihan seorang manusia untuk bertahan. Nonton DVD hasil sewa dari Ultradisc gratisan :-) bersama Istri sambil tiduran… (sampai hampir tidur hehe)
Kekejaman demi kekejaman ada di sepanjang film, ketika bom-bom mulai berjatuhan di Polandia, ketika Yahudi harus mengenakan tanda khusus di lengan untuk lebih mudah membedakan dengan yang bukan yahudi, ketika diusir paksa, disediakan tempat khusus (getho), disuruh kerja paksa, disiksa, ditembak tanpa kata, dll dll
Semua kekerasan itu pasti membuat mual. Roman Polanski sang sutradara, ternyata mengalami sendiri kejadian itu pada masa kanak2nya di Krakaw dan Warsawa, Polandia. Adrien Body berperan sangat baik, sebagai pemeran utama -Wladyslaw Szpilman-, seorang pianis yang mengalami kekejaman (juga kebaikan) Nazi.
Film ini dibalut dengan keindahan alunan piano di awal dan di akhir. Sangat memnyentuh dan dengan baik menghalau kesan dominasi kekerasan di film ini.

Read the rest of this entry »

  • Share/Bookmark

Tawaran Aksi Mencegah Eksploitasi Korporasi

September30

Permulaan abad ke-20 banyak negara yang menganut demokrasi, demokrasi merambah ruang publik dan ekonomi. Program sosial dan peraturan perundangan tentang ekonomi banyak yang memihak rakyatnya. Permulaan bagian tahun-tahun dari akhir abad itu, bagaimanapun, pemerintah mulai untuk mundur. Di bawah lobi perusahaan dan globalisasi ekonomi, mereka menganut kebijakan yang dipromosikan oleh neoliberalisme. Deregulasi membebaskan korporasi dari batasan undang-undang, dan privatisasi mulai berkuasa untuk mengurus area publik yang sebelumnya dilindungi dari eksploitasi korporasi. Pada akhir abad ke-20, korporasi telah menjadi institusi dunia yang dominan.

Korporasi sebagai institusi paling dominan ternyata gagal mengatasi masalah besar dunia: kemiskinan, kerusakan lingkungan hidup, perang, dan kesehatan, malah makin mmeperburuk, antara lain ditandai dengan banyak muncul aktivis lingkungan hidup dan pengunjukrasa antiglobalisasi.
Kapitalisme yang telah merambah dunia, menumbangkan komunisme dilain pihak, menyingkirkan monarki, ternyata meninggalkan banyak orang terutama di negara miskin. Bahkan banyak orang pula di Negara maju. Memang, korporasi ada untuk semakin meningkatkan nilai saham pemiliknya, dengan cara apapun.
Read the rest of this entry »

  • Share/Bookmark
« Older Entries

Kategori